arsip | wedsite | other blog | kirim sms

10.10.03  

Broadband at the price of dial-up

Tiscali is to offer broadband net access at the same price as dial-up. hua, kapan ya di indonesia bisa ada layanan kayak gini? skr aja brodbend di potong bandwithnya sampe setengahnya. hiks...

eh, alhamdulillah, kerjaan yang kemarin dah disetujui sama farhan. kemarin dah ketemu di sk, dan omongin beberapa hal. tadi kasih cd rom ke dia buat install b2b. hmm..skr mau ke pameran desain grafis ah. :) hmmm capek juga sih sebab semalam bikin desain web buat jurusan sampe jam 3 lho. hua, kan jadi ngantuk banget. hiks..udah gitu lupa dibawa filenya, cuma dibawa file sqlnya aja. huhuhuhu.

Irfan Toni H | 1:09 PM |


9.10.03  

Kecelakaan Maut

detikcom - Yogyakarta, Hingga kini, jumlah korban tewas tabrakan maut di Situbondo, masih simpang siur. Pihak SMK I Yapemda, Sleman, mengeluarkan data 54 korban tewas. Sedangkan versi RSUD Situbondo menyebut 55 orang.

Irfan Toni H | 9:32 AM |
 

sudah sampai di kantor kembali. hore. badan pegel-pegel karena kemarin loncat dari bis yang mau kebakar. huuh..itu bisa udah keluar asap. orang-orang keluar sambil dorong-dorongan. tangan dan punggungku masih pegel sampe skr, mungkin salah urat karena tertarik dan nahan badan waktu loncat. ah..nanti malam mau pijat refleksi aja ah.

mau bikin web juga. hmm...desain. bikin desain. aku juga udah mulai nulis irfans-seeds lagi. masih ada banyak yang ingat lho. dduh, senangnya. jadi terharu.

Irfan Toni H | 9:19 AM |


8.10.03  

Gamelan & Flash-Monkey C

...play the bonang,the saron,the slentom or the gongs in a shockwave flash movie. hmmm...lotjoe juga. :)

Irfan Toni H | 4:15 PM |
 

Keberanian

Suatu ketika seorang Indian muda, mendatangi tenda ayahnya. Di dalam sana, duduk seorang tua, dengan pipa panjang yang mengepulkan asap. Matanya terpejam, tampak sedang bersemadi. Hening. "Ayah, bolehkah aku ikut berburu besok pagi?" tanya Indian muda itu memecahkan kesunyian disana. Mata sang Ayah membuka perlahan, sorot matanya tajam, memandang ke arah anak paling disayanginya itu. Kepala suku itu hanya diam.

"Ya Ayah, bolehkah aku ikut berburu besok? Lihat, aku sudah mengasah pisauku. Kini semuanya tajam dan berkilat." Tangan si kecil merogoh sesuatu dari balik kantung kulitnya. Sang Ayah masih diam mendengarkan. "Aku juga sudah membuat panah-panah untuk bekalku berburu. Ini, lihatlah Ayah, semuanya pasti tajam. Busurku pun telah kurentangkan agar lentur. Pasti aku akan menjadi Indian pemberani yang hebat seperti Ayah. Ijinkan aku ikut Ayah." Terdengar permintaan merengek dari si kecil.

Suasana masih tetap senyap. Keduanya saling pandang. Terdengar suara berat sang Ayah, "Apakah kamu sudah berani untuk berburu? "Ya!" segera saya terdengar jawaban singkat dari si kecil. "Dengan pisau dan panahku, aku akan menjadi yang paling hebat." Sang Ayah tersenyum, "Baiklah, kamu boleh ikut besok, tapi ingat, kamu harus berjalan di depan pasukan kita. Mengerti?" Sang Indian muda mengangguk.

Keesokan hari, pasukan Indian telah siap di pinggir hutan. Kepala suku, dan Indian muda, berdiri paling depan. "Hari ini anakku yang akan memimpin perburuan kita. Biarkan dia berjalan di depan." Indian muda itu tampak gagah. Ada beberapa pisau yang terselip di pinggang. Panah dan busur, tampak melintang penuh di punggungnya. Ini adalah perburuan pertamanya. Si kecil berteriak nyaring, "ayo kita berangkat."

Mereka mulai memasuki hutan. Pohon-pohon semakin rapat, dan semak semakin meninggi. Sinar matahari pun tak leluasa menyinari lebatnya hutan. Mulai terdengar suara-suara dari binatang yang ada disana. Indian kecil yang tadi melangkah dengan gagah, mulai berjalan hati-hati. Parasnya cemas dan takut. Wajahnya sesekali menengok ke belakang, ke arah sang Ayah. Linglung, dan ngeri. Tiba-tiba terdengar beberapa suara harimau mengaum. "Ayah...!!" teriak si kecil. Tangannya menutup wajah, dan ia berusaha lari ke belakang. Sang Ayah tersenyum melihat kelakuan anaknya, begitupun Indian lainnya.

"Kenapa? Kamu takut? Apakah pisau dan panahmu telah tumpul? Mana keberanian yang kamu perlihatkan kemarin?" Indian muda itu terdiam. "Bukankah kamu bilang, pisau dan panahmu dapat membuatmu berani? Kenapa kamu takut sekarang? Lihat Nak, keberanian itu bukan berasal dari apa yang kau miliki. Tapi, keberanian itu datang dari sini, dari jiwamu, dari dalam dadamu." Tangan Kepala Suku menunjuk ke arah dada si kecil.

"Kalau kamu masih mau jadi Indian pemberani, teruskan langkahmu. Tapi jika, di dalam dirimu masih ada jiwa penakut, ikuti langkah kakiku." Indian muda itu masih terdiam. "Setajam apapun pisau dan panah yang kau punya, tak akan membuatmu berani kalau jiwamu masih penakut. Sekuat apapun busur telah kau rentangkan, tak akan membuatmu gagah jika jiwa pengecut lebih banyak berada di dalam dirimu." "...Aauummmm." Tiba-tiba terdengar suara harimau yang mengaum kembali. Indian muda kembali pucat. Ia memilih untuk berjalan di belakang sang Ayah.

***

Keberanian. Apakah itu keberanian? Keberanian bukanlah rasa yang dimiliki oleh orang yang menganggap dirinya memiliki segalanya. Keberanian juga bukan merupakan rasa yang berasal dari sifat-sifat sombong dan takabur. Keberanian adalah jiwa yang berasal dari dalam hati, dan bukan dari materi yang kita miliki. Keberanian adalah sesuatu yang tersembunyi yang membuat orang tak pernah gentar walau apapun yang dia hadapi.

Saya percaya, keberanian bukan berasal dari apa yang kita sandang atau kita miliki. Keberanian bukan datang dari apa yang kita pamerkan atau yang kita punyai. Tapi, teman, keberanian adalah datang dari dalam diri, dari dalam dada kita sendiri. Keberanian adalah sesuatu yang melingkupi perasaan kita, dan menjadi bekal dalam setiap langkah yang kita ayunkan.

Teman, mungkin saat ini kita diberikan banyak kemudahan, dan membuat kita merasa cukup berani dalam menjalani hidup. Kita mungkin dititipkan kelebihan-kelebihan dan membuat kita takabur bahwa semua masalah akan mampu di hadapi. Mungkin saat ini kita kaya, rupawan, berpendidikan tinggi, dan berkedudukan bagus, tapi apakah itu bisa menjadi jaminan bahwa kita akan selamanya dapat menjalani hidup ini? Apakah itu akan selamanya cukup untuk menjadi bekal kita dalam "perburuan" hidup ini?

Jadilah Indian muda yang tetap melangkah, dengan jiwa pemberani yang hadir dari dalam hati, dan BUKAN dari pisau dan panah yang telah diasah. Jadilah Indian muda yang tak pernah gentar mendengar suara harimau, sekeras apapun suara itu terdengar. Jadilah Indian muda yang tetap yakin dengan pilihan keberanian yang ia putuskan. Jangan gentar, jangan surut untuk melangkah.




Irfan Toni H | 2:50 PM |
 

Beruang

Air sungai kecil itu terlihat tenang. Percik-percik air pun tak muncul dari balik bebatuan. Jernihnya air, mengalun seperti bunyi-bunyi angin dari kejauhan. Semilirnya yang terlihat menghembus, tak juga menerpa ujung-ujung rumput yang menjuntai di sisi kiri dan kanan. Hanya sesekali tampak ada kelok air, saat arus dari hulu menumbuk beberapa kerikil kecil. Setelah itu keadaan kembali hening. Cuma nihilnya suara jengkerik saja yang membedakan hari itu bukan lagi tengah malam.

Tiba-tiba ada kecipak air dari langkah kaki yang berat. Tampak seekor beruang, yang terlihat seperti sedang mencari sarapan. Badan besarnya membungkuk, tangannya mengapai-gapai mengoyak permukaan air. Beberapa ikan gabus kecil berlarian menyelamatkan diri, menghindar dari empasan tangan si pemakan ikan itu. Tapi sayang, ada satu ikan kecil yang kurang gesit. Siripnya tak lincah menghindari bongkah batu. Hap, berpindahlah ikan kecil itu ke tangan si beruang.

"Tolong…pak beruang. Lepaskan aku." Terdengar teriakan mohon ampun dari si gabus. Tubuhnya meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari cengkeraman kuku-kuku tajam. "Badanku masih kecil. Pasti kamu tak akan kenyang dengan memakanku." Beruang hitam itu tertegun mendengar ucapan dari sang ikan. Matanya terlihat meneliti hasil tangkapannya. "Lepaskan saja aku. Kalau aku besar nanti, kamu akan tetap bisa menangkapku. Dan pasti kamu akan lebih kenyang." Lagi-lagi suara si gabus.

Sesaat sang beruang itu terdiam. Hewan itu tampak sedang berpikir. Gerakan si gabus pun mulai tenang. Dia tak lagi meronta-ronta. Alih-alih ketakutan, ikan itu terlihat optimis dengan ucapannya. "Kamu benar." Ada suara yang membalas ucapan sang ikan. "Tapi aku tak pernah melepaskan tangkapanku, walaupun sekecil apapun." Segera saja, dimasukkanlah ikan kecil itu kedalam mulut beruang. Beruang itu kembali berkata, "dan hari ini, kamu menjadi sarapan pagiku."

***

Setiap pagi, ada banyak orang yang pergi untuk bekerja. Setiap pagi pula ada banyak pula yang berdoa dan mengantungkan harapan dari pekerjaannya itu. Mereka kemudian berharap akan sesuatu yang melimpah, dan bermohon pada sesuatu yang banyak, dalam cara dan bentuk apapun. Uang yang banyak, hasil yang melimpah, ataupun keuntungan yang berlipat-lipat. Bisa jadi, itulah yang menjadi pengharapan setiap orang setiap pagi.

Namun kadangkala, ada hal yang tidak terduga-duga muncul di hadapan. Sering kita menemui, apa yang kita harapkan itu tak jua menjadi kenyataan. Harapan tentang sesuatu yang banyak dan melimpah itu, acapkali hadir dalam wujud yang kecil dan tak seberapa. Bahkan tak jarang, harapan itu hanya tinggal harapan, dan kita hanya mendapatkan tangan hampa.

Teman, lalu apakah kita kemudian kita akan melepaskan semua hasil kita itu? Akankah kita membiarkan usaha kita itu lenyap, demi mengharapkan sesuatu yang melimpah? Saya berani berkata, contohlah sang beruang itu. Sekecil apapun, seremeh apapun, dan se-tak-seberapapun hasil usaha kita, akan menjadi bentuk syukur kita kepada Tuhan. Disanalah terletak keikhlasan untuk menerima, untuk berterimakasih, dan untuk menampilkan rasa harap kita pada Yang Maha Pemberi. Disanalah akan bisa kita temukan makna keberhasilan yang sesungguhnya.

Jangan pernah membuang kesempatan dan rezeki, Teman. Bukalah setiap pintu kesempatan yang mengetuk itu. Sebab barangkali, pintu kesempatan dan rezeki itu tak mengetuk dua kali.

Irfan Toni H | 2:46 PM |
 

Kita Belajar Cinta Dari Apa Pun

Kita belajar apa itu cinta dari seorang ibu yang menyusui anaknya dalam gendongan, yang kedua belah tangannya sibuk menisik selimut keluarga. Dalam dadanya tiada sesuatu apa selain ketulusan memberi atas nama cinta.

Kita belajar apa itu cinta dari seorang ayah yang membawa pulang sejumput padi dan setuang air setelah seharian berterik-terik di ladang. Dalam dadanya tiada sesuatu apa selain kegembiraan memberi atas nama cinta.

Karena cinta bukan hanya sekedar pelukan hangat, belaian lembut, atau kata-kata penuh dayu, bahkan cinta bukan hanya cinta yang kita rasakan saat jatuh cinta. Kita belajar apa itu cinta dari apa pun yang ada di muka bumi. Dari cahaya matahari. Dari sepasang merpati. Dari sorot mata anak-anak yang menanti pemberian. Dari sujud dan tengadah doa. Dari apa pun!

Dari seluruh kelahiran, yang kita sambut dengan cinta, hingga kematian yang kita larung dalam cinta, kita hanya belajar satu hal: cinta.Dan kehadiran kita dalam hidup ini pun tiada maksud lain selain mewujudkan cinta. Karena itu, tiada yang pantas kita lakukan selain atas nama cinta kita yang teragung.

Irfan Toni H | 10:18 AM |


6.10.03  

hua. sholihahku lagi ngambek. hmm...kemarin aku ambil cd di indocomtech. pas pulang macet banget, dan hujan pula. dduh, udah kepalang basah naik 45 di pasar ciputat. ya sudah, berangkat jam 12 pulang jam 6. hmmm..capek.

tadi pagi juga capek. berangkat jam 06.30 sampe sini jam 9.30. capek nyetir dan juga kepanasan. hari ini mau ambil cetakan, dan anterin ke pejaten. hiks. :) mau ke kampus nga ya? hmmm..nga tau deh. capek nih, mau bikin desain juga.

Irfan Toni H | 12:15 PM |


5.10.03  

blog lagi dari indocomtech. ambil driver, sebab kelupaan. hiks...makin rame aja.

Irfan Toni H | 1:20 PM |